Selasa, 13 November 2012

Akhlak terhadap Orang tua

a. Qawlan Karima (perkataan yang mulia)
Allah Swt. berfirman :
“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik
kepada Ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah
seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai
umur lanjut dalam pemeliharanmu, maka sekali-kali
janganlah kamu mengatakan kepada keduanya
perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka
dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
mulia.” (QS. Al Isra’ : 23)
b. Qawlan sadida (perkataan yang benar atau jujur)
Allah Swt. berfirman :
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang
yang seandainya meninggalkan dibelakang
mereka anak-anak yang lemah yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Dan
hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang
benar.” (QS. An Nisa’ : 9)
c. Qawlan ma’rufa (perkataan yang baik)
Allah Swt. berfirman :
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih
baik dari sedekah yang di iringi dengan sesuatu
yang menyakitkan (perasaan penerima). Allah
Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” 
(QS. Al baqarah : 263)
d. Qawlan baligha (perkataan yang efektif atau keterbukaan)
Allah Swt. berfirman :
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah
mengetahui apa yang didalam hati mereka.
Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka dan
berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada
mereka perkataan yang berbekas pada jiwa
mereka.” (QS. An Nisa’: 63)
e. Qawlan layyina (perkataan yang lemah lembut)
Allah Swt. berfirman :
Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya
dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah
mudahan Ia ingat dan takut.” (QS. Thaha : 44)
f. Qawlan maisura (perkataan yang pantas)
Allah Swt. berfirman :
“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk
memperoleh rahmat dari tuhanmu yang kamu
harapkan, maka katakanlah kepada mereka
ucapan yang pantas.” (QS. Al Isra’: 28)
Seluruh manusia pasti akan menjadi orangtua jika Allah  
SWT menghendaki. pandanglah ke depan bagaimana jika 
kita menjadi orangtua dan diperlakukan buruk oleh 
anak-anak kita nantinya pastinya hal itu tidak ingin terjadi
kepada kita semua, oleh sebab itu perlakukanlah 
orangtua kita dengan baik. Karena, jika kita baik kepada
orangtua Insya Allah kita akan mendapatkan balasan
perilaku yang baik pula dari anak kita kelak, amin ya
rabbal'alamin.



Jumat, 09 November 2012


KEWAJIBAN ANAK TERHADAP ORANGTUA
Rasulullah Saw. bersabda :
Berbuat baiklah kepada Ibumu, Bapakmu,
saudara perempuan dan saudara laki-lakimu,
kemudian orang yang paling dekat denganmu
kemudian seterusnya.”(HR. Nasa’i, Ahmad, dan Al Hakim)
I. Hak Orang tua (Kewajiban anak terhadap Orang tua)
A. Hak Orang tua yang masih hidup
ØMendapat perlakuan yang baik dari anak-anaknya.
Rasulullah Saw. besabda :
Berbuat baiklah kepada kedua Orang tua lebih
utama ketimbang shalat, shadaqoh, puasa, haji,
umroh, dan jihad di jalan Allah.”
 (HR. Abu Ya’la dan Thabrani)
ØMendapat perawatan yang baik dari anak-anaknya hingga maut
   menjemputnya.
Rasulullah Saw. besabda :
Anak tidak dapat membalas kedua Orang
tuanya hingga ia mendapati sebagai budak lalu
membelinya dan memerdekaannya.”
 (HR.Muslim)
B. Hak Orang tua yang telah wafat
Ada Sahabat yang bertanya pada Rasulullah
“Wahai Rasulullah masih adakah kewajiban
untuk berbuat baik kepada Orang tuanya yang telah
wafat ?” Rasulullah bersabda “Ya, mendo’akannya,
memintakan ampunan untuknya, menunaikan
janjinya, menghormati temannya, menyambungkan
kerabat yang tidak dapat disambung oleh Orang tua.”
 (HR. Abu Daud, Abn Hibban, dan Al Hakim)



PENDIDIKAN YANG TERPURUK (Version 1)

Adakah yang salah dengan pendidikan saat ini?. Banyaknya murid yang dihasilkan tidak sesuai dengan hasil yang diperoleh secara tertulis, contohnya saja ketika di Sekolah Dasar tidak sedikit murid yang mendapatkan nilai sempurna. Akan tetapi, ketika mereka memasuki Sekolah Menengah Pertama banyak pelajaran SD yang terlupakan, lantas darimana hasil yang mereka peroleh selama ini?. Hal semacam ini banyak kita temukan di daerah-daerah walau tidak menutup kemungkinan di perkotaan juga dapat kita temui hal semacam ini. Satu contoh, saya pernah bertemu dengan seorang ibu yang sedang mencarikan anaknya sekolah swasta, ibu itu berkata “dulu sewaktu saya tinggal di kota besar anak saya sekolah negeri, belajar setiap hari dengan gigih, tetapi hanya mendapatkan peringkat lima. Sekarang ketika kita sekeluarga pindah ke daerah ini anak saya jadi malas belajar, tidak tahunya ketika menerima rapor ternyata anak saya peringkat satu. Saya jadi heran, berarti kualitas sekolah negeri disini tidak bagus”. Kenapa hal seperti cerita di atas dapat terjadi?, coba kita telusuri permasalahannya.

  1. Kapasitas sekolah. Rata-rata sekolah di daerah Kabupaten satu  kelas minimal 50 siswa, bahkan ada yang 70 siswa dalam satu kelas dan dalam satu meja siswa duduk bertiga. Kapasitas yang over load seperti ini mengakibatkan siswa belajar sangat tidak kondusif. Guru yang mengajar hanya satu orang, bayangkan satu berbanding 70.
  2. Sumber Daya Manusia. Saat ini banyak guru yang datang ke sekolah merasa hanya sebagai pengajar ilmu yang pasti bukan sebagai model dari siswa atau bahkan sebagai pendidik yang baik. Guru datang mengajar, hasil dari pelajaran tersebut tuntas atau tidak tuntas diserap oleh siswa tidak dipedulikan. Banyak guru yang berkata “tugas saya kan hanya mengajar, kalau sudah selesai mengajar ya sudah tugas saya selesai kan?”. Guru yang hanya mementingkan keperluan pribadinya ini yang membuat siswa tidak berkualitas.
  3. Kekerasan dalam mendidik. Sering kita lihat berita di televisi yang memberitakan kekerasan guru terhadap murid. Sekolah adalah wadah segalanya bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga tempat pembentukan karakter seorang anak. Bagaimana seorang anak dapat berperilaku sopan, jika mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari pendidiknya?. Kesabaran guru dalam mendidik sangat dituntut, dan setiap guru sudah seharusnya dapat membaca karakter setiapa siswanya. Hal ini guna menangani permasalahan yang ada dalam diri siswa tidak ditangani dengan pola yang sama. setiap siswa memiliki karakter yang berbeda, dan guru harus dapat menyelesaikan masalah yang ada pada siswa sesuai dengan karakter siswa masing-masing.
  4. Sikap acuh. sikap acuh yang dilakukan guru, juga berdampak pada siswa menjadi tidak berkualitas. Guru mengajar hanya dengan metode ceramah  dan langsung pemberian tugas tanpa selanjutnya siswa tidak ditanyakan apakah sudah paham atau belum dengan pelajaran yang diberikan. Hal tersebut menimbulkan siswa yang lamban dalam menyerap pelajaran akan semakin ketinggalan, sedangkan siswa yang cepat menyerap pelajaran akan semakin meningkat.
  5. Sarana dan prasarana sekolah. Dalam hal ini memang sudah seharusnya negara yang bertanggungjawab dalam memfasilitasi sekolah-sekolah, memberikan bantuan dalam sarana dan prasarana. Akan tetapi, pihak sekolahpun seharusnya mengambil tindakan untuk sering mengajukan jika memang masih ada fasilitas yang belum terpenuhi. Karena kita tahu bagaimana pemerintahan kita saat ini jika sudah membicarakan masalah dana. Sekolahpun jika sudah diberikan dana, jangan lantas dipakai untuk keperluan yang tidak semestinya.
Kelima pemasalahan di atas baru sebagian dari masalah yang ada, yang mungkin menyebabkan siswa tidak berkualitas. Akan ada lima permasalahan lagi yang akan dibahas pada blog selanjutnya. Silahkan ditunggu. 

Selasa, 23 Oktober 2012


Mengalah=Kalah

Tidak mengerti apa yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesabaran tinggi dan menganggap semua nya berlalu dan tidak perlu diambil pusing. Pernahkah terlintas di pikiran mereka untuk menyelesaikan semuanya secara tuntas tanpa mengandalkan buah kesabaran. Terlepas dari ajaran agama yang mengharuskan manusia untuk bersabar, mereka berkata “buah kesabaran akan manis rasanya”. apakah semua benar?, lalu bagaimana dengan orang-orang yang selalu berdoa, bekerja keras, tetapi mereka tetap tidak mendapatkan buah yang manis dari hasil sabar dan kegigihannya, apakah ini disebut takdir?.
Sabar=mengalah=takut=kalah, sabar atau kalah?, ambil contoh ketika terjadi pertengkaran dua orang, salah satu diantara mereka merasa lelah karena terus bertengkar dengan masalah yang sama sehingga dia mengalah dan berkata “ya sudahlah saya yang salah dan saya minta maaf”, apakah dengan kejadian tersebut berarti orang tersebut mengalah dan dinyatakan kalah?. Lalu, bagaimana dengan kejadian selanjutnya ketika terjadi lagi hal yang sama “ya sudahlah saya yang salah dan saya minta maaf”, terus terjadi sampai berulang-ulang, ini sebetulnya kejadian apa?, karena orang tersebut punya kesabaran yang tinggi atau kita sebut mengalah demi kedamaian. Akan tetapi, benarkah jauh dilubuk hatinya ia merasa damai dengan sikap sabar, sabar, dan sabar.
Bukankah seharusnya semua permasalahan diselesaikan secara tuntas?, jika semua masalah terjadi seperti itu bukankah secara jasmani dan rohani semua manusia akan sehat dan mungkin tidak ada lagi orang yang terkena penyakit jantung, struk atau bahkan sakit jiwa. Ya Tuhan andai saja orang yang tidak pernah mengalah bisa membaca hati dan perasaan dari “sang penyabar”, mereka pastinya mengerti apa yang kita inginkan sehingga tidak ada lagi pertengkaran yang dilakukan karena melakukan kesalahan yang sama dan tidak ada lagi kekecewaan dalam perasaan karena tidak pernah terungkap.Kita mengalah bukan karena takut, tetapi karena lelah harus selalu mengingatkan perilaku yang tidak kita sukai terjadi terus menerus. Walaupun, agama mengajarkan sesama manusia harus saling mengingatkan. Ingatlah dan pandanglah kami sebagai manusia biasa yang tidak mungkin mengikuti ajaran agama dan mencontoh perilaku nabi 100%, sekalipun ia adalah seorang ulama.


Senin, 08 Oktober 2012


SIAPAKAH YANG SALAH???????

Membuat suatu perlombaan memang tidak mudah. Dibutuhkan kerja keras dari penyelenggara lomba, untuk mempersiapkan segala kebutuhan lomba baik dari segi perlengkapan, publikasi, dana dll. Begitu pula dengan mempersiapkan kriteria atau ketentuan penilaian, dalam hal ini ketentuan bukan hanya disediakan atau dibuat oleh penyelenggara tetapi, juga dibutuhkan kerjasama dengan tim juri dalam membuat ketentuan penilaian.  
Tim juri memiliki andil besar dalam suatu perlombaan, karena peserta lomba akan mempercayai tim juri sebagai penentu hasil lomba. oleh karena itu, untuk memilih tim juri yang baik, ada kalanya pihak penyelenggara lomba memilih atau menyeleksi juri SESUAI DENGAN BIDANG ATAU BACKGROUND YANG AKAN DIPERLOMBAKAN. Salah satu contoh, jika yang diperlombakan adalah bidang olahraga sudah seharusnya juri yang ada juga berasal dari background olahraga, atau jika yang diperlombakan dalam bidang seni sudah seharusnya pula yang menjadi juri adalah orang yang background nya juga seni. kenapa demikian? karena, jika orang yang menjadi juri tidak sesuai dengan bidang yang akan diperlombakan maka HASILNYA TIDAK AKAN MEMUASKAN BAGI PESERTA LOMBA.
Hal tersebut yang saya alami sekitar pertengahan bulan September 2012 yang lalu. Saat itu murid-murid saya mengikuti suatu perlombaan di daerah Cileungsi, Bogor yang diselenggarakan oleh sekolah swasta tingkat lanjut. Murid saya mengikuti 2 perlombaan yaitu, lomba membuat dan mewarnai kaligrafi dan lomba mading 3 dimensi. Ketentuan yang dibuat oleh panitia adalah untuk kaligrafi khusus Asmaul Husna, sedangkan untuk mading 3 dimensi memiliki maksimum panjang 1,4x1,4x1 m. Dengan dibuatnya ketentuan tersebut, sudah seharusnya panitia memiliki tim juri yang sesuai dengan bidang yang diperlombakan.
Akan tetapi, apa yang terjadi??????? saat pengumuman juara lomba, yang memenangkan lomba kaligrafi adalah peserta yang menuliskan nama Allah SWT, dan yang memenangkan perlombaan mading 3 dimensi adalah tim yang membuat mading hanya 2 dimensi, tidak memiliki panjang, lebar, maupun tinggi. Saya sebagai guru seni sangat keberatan dengan hasil juri, karena pemenang tidak sesuai dengan ketentuan yang sudah dibuat oleh panitia, ini menandakan bahwa juri yang terlibat tidak berkompeten, begitu pula dengan panitia yang tidak tahu bagaimana bekerjasama yang baik dengan juri.
Apakah Allah termasuk ke dalam asmaul husna??????? bukankah asmaul husna diawali dengan ar-Rahman dan diakhiri dengan Ashobur dan berjumlah 99, jika Allah termasuk ke dalam asmaul husna coba anda hitung jadi berapa jumlah asmaul husna????.
Yang menjadi pertanyaan saya darimana panitia menemukan juri-juri tersebut dan apa background para juri itu??????? kok berani-beraninya mereka membuat suatu perlombaan jika mereka tidak mempersiapkan segalanya dengan baik. Sebagai juri mereka juga berani saja menerima tawaran panitia, yang ternyata mereka tidak memiliki pengetahuan tentang asmaul husna dan apa itu artinya mading 3 dimensi. Setidaknya kalaupun mereka bukan orang yang sesuai bidang tersebut, jika berani menerima tawaran sebagai juri sebelum pelaksanaan lomba yaaa ada baiknya mereka pelajari dulu ketentuan yang diberikan panitia, atau jangan-jangan panitia baru memberitahu ketentuan penilaian saat hari H nya????, dan sebagai juri juga harus tau apa itu artinya atau perbedaanya 2 dimensi dan 3 dimensi, anak kelas 1 SD saja sudah belajar apa arti dan bedanya 2 dimensi dan 3 dimensi.
Komplen saya terhadap panitia tidak membuahkan hasil, mereka hanya meminta maaf dan yang terparahnya lagi panitia tidak mengetahui peserta mana yang ternyata menjadi pemenang, setelah saya menunjukkan bukti dari hasil karya si pemenang, sebetulnya panitia juga setuju bahwa mereka tidak layak menjadi pemenang. Akan tetapi, panitia menjawab tidak mungkin hadiah atau piala ditarik kembali karena hasil sudah diumumkan, menurut saya ini jawaban yang sangat klise bagi penyelenggara perlombaan yang memiliki kesalahan. Jika memang mereka penyelenggara yang baik dan benar mereka berani menanggung resiko untuk menyelesaikan masalah ini sampai tuntas, betapa mengecewakannya bukan????????
Saya menulis pengalaman ini, untuk menjadikan suatu pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengikuti perlombaan untuk lebih jeli dan kritis lagi terhadap penyelenggara lomba, dan pelajaran pula bagi orang-orang yang ingin menyelenggarakan suatu perlombaan. Mudah-mudahan tulisan saya ini bermanfaat bagi banyak orang amin ya rabbal ‘alamin.