SIAPAKAH YANG SALAH???????
Membuat suatu perlombaan
memang tidak mudah. Dibutuhkan kerja keras dari penyelenggara lomba, untuk
mempersiapkan segala kebutuhan lomba baik dari segi perlengkapan, publikasi,
dana dll. Begitu pula dengan mempersiapkan kriteria atau ketentuan penilaian,
dalam hal ini ketentuan bukan hanya disediakan atau dibuat oleh penyelenggara
tetapi, juga dibutuhkan kerjasama dengan tim juri dalam membuat ketentuan
penilaian.
Tim juri memiliki andil
besar dalam suatu perlombaan, karena peserta lomba akan mempercayai tim juri
sebagai penentu hasil lomba. oleh karena itu, untuk memilih tim juri yang baik,
ada kalanya pihak penyelenggara lomba memilih atau menyeleksi juri SESUAI DENGAN BIDANG ATAU
BACKGROUND YANG AKAN DIPERLOMBAKAN. Salah
satu contoh, jika yang diperlombakan adalah bidang olahraga sudah seharusnya
juri yang ada juga berasal dari background olahraga, atau jika yang
diperlombakan dalam bidang seni sudah seharusnya pula yang menjadi juri adalah
orang yang background nya juga seni. kenapa demikian? karena, jika orang yang
menjadi juri tidak sesuai dengan bidang yang akan diperlombakan maka HASILNYA TIDAK AKAN MEMUASKAN BAGI
PESERTA LOMBA.
Hal tersebut yang saya
alami sekitar pertengahan bulan September 2012 yang lalu. Saat itu murid-murid
saya mengikuti suatu perlombaan di daerah Cileungsi, Bogor yang diselenggarakan
oleh sekolah swasta tingkat lanjut. Murid saya mengikuti 2 perlombaan yaitu,
lomba membuat dan mewarnai kaligrafi dan lomba mading 3 dimensi. Ketentuan yang
dibuat oleh panitia adalah untuk kaligrafi khusus Asmaul Husna, sedangkan untuk
mading 3 dimensi memiliki maksimum panjang 1,4x1,4x1 m. Dengan dibuatnya
ketentuan tersebut, sudah seharusnya panitia memiliki tim juri yang sesuai
dengan bidang yang diperlombakan.
Akan tetapi, apa yang
terjadi??????? saat pengumuman juara lomba, yang memenangkan lomba kaligrafi
adalah peserta yang menuliskan
nama Allah SWT, dan yang
memenangkan perlombaan mading 3 dimensi adalah tim yang membuat mading hanya 2
dimensi, tidak memiliki panjang, lebar, maupun tinggi. Saya sebagai guru seni
sangat keberatan dengan hasil juri, karena pemenang tidak sesuai dengan
ketentuan yang sudah dibuat oleh panitia, ini menandakan bahwa juri yang terlibat tidak
berkompeten, begitu pula dengan panitia yang tidak tahu bagaimana bekerjasama
yang baik dengan juri.
Apakah Allah termasuk ke
dalam asmaul husna??????? bukankah asmaul husna diawali dengan ar-Rahman dan
diakhiri dengan Ashobur dan berjumlah 99, jika Allah termasuk ke dalam asmaul
husna coba anda hitung jadi berapa jumlah asmaul husna????.
Yang menjadi pertanyaan
saya darimana panitia menemukan juri-juri tersebut dan apa background para juri
itu??????? kok berani-beraninya mereka membuat suatu perlombaan jika mereka
tidak mempersiapkan segalanya dengan baik. Sebagai juri mereka juga berani saja
menerima tawaran panitia, yang ternyata mereka tidak memiliki pengetahuan
tentang asmaul husna dan apa itu artinya mading 3 dimensi. Setidaknya kalaupun
mereka bukan orang yang sesuai bidang tersebut, jika berani menerima tawaran
sebagai juri sebelum pelaksanaan lomba yaaa ada baiknya mereka pelajari dulu
ketentuan yang diberikan panitia, atau jangan-jangan panitia baru memberitahu
ketentuan penilaian saat hari H nya????, dan sebagai juri juga harus tau apa
itu artinya atau perbedaanya 2 dimensi dan 3 dimensi, anak kelas 1 SD saja
sudah belajar apa arti dan bedanya 2 dimensi dan 3 dimensi.
Komplen saya terhadap
panitia tidak membuahkan hasil, mereka hanya meminta maaf dan yang terparahnya
lagi panitia tidak mengetahui peserta
mana yang ternyata menjadi pemenang, setelah saya menunjukkan bukti dari
hasil karya si pemenang, sebetulnya panitia juga setuju bahwa mereka tidak
layak menjadi pemenang. Akan tetapi, panitia menjawab tidak mungkin hadiah atau piala ditarik kembali karena
hasil sudah diumumkan, menurut saya ini jawaban yang sangat klise bagi
penyelenggara perlombaan yang memiliki kesalahan. Jika memang mereka
penyelenggara yang baik dan benar mereka berani menanggung resiko untuk
menyelesaikan masalah ini sampai tuntas, betapa mengecewakannya bukan????????
Saya menulis pengalaman
ini, untuk menjadikan suatu pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengikuti
perlombaan untuk lebih jeli dan kritis lagi terhadap penyelenggara lomba, dan
pelajaran pula bagi orang-orang yang ingin menyelenggarakan suatu perlombaan. Mudah-mudahan
tulisan saya ini bermanfaat bagi banyak orang amin ya rabbal ‘alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar